RESILIENSI SEKOLAH BERBASIS KEARIFAN LOKAL UNTUK MITIGASI BENCANA

Bencana bisa terjadi dimanapun, kapan pun, dan bisa menimpa siapapun, termasuk juga di sekolah. Siswa dan guru bisa saja menjadi korban bencana. Karenanya perlu dilakukan mitigasi bencana, yakni serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Berdasarkan sumbernya, bencana terbagi atas 3 macam, yakni:

  • Bencana alam, adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa/serangkaian peristiwa oleh alam
  • Bencana nonalam, adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa/serangkaian peristiwa nonalam
  • Bencana sosial, adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa/serangkaian peristiwa oleh manusia

Pada saat sekarang ini, dunia tengah menghadapi bencana non alam, yakni Pendemi Covid-19. Semua merasakan, dan semua harus mampu melakukan mitigasi, utamanya di sekolah-sekolah.

Dalam rangka itulah, LPPM UNY menyelenggarakan “Workshop Pengembangan Resiliensi Sekolah untuk Mitigasi Bencana Berbasis Kearifan Lokal”, sebagai upaya mitigasi bencana di sekolah, dengan nara sumber utama Prof. Dr. Siti Irene Astuti D dan Dr. Dyah Respati Suryo Sumunar, M.Si.

Dalam kegiatan workshop yang deselenggarakan secara on line menggunakan aplikasi Zoom dan diikuti perwakilan peserta mulai dari Aceh hingga Papua, Prof. Irene memaparkan perlunya resiliansi dalam mitigasi bencana berbasis kearifan lokal, dilakukan di sekolah-sekolah. Tiap sekolah atau lingkungan pasti memiliki kearifan lokal yang bisa digunakan untuk mengatasi atau merseponse bencana. Dicontohkan, di Jateng ada nilaai kearifan lokal berupa Jogo Tonggo. Di Cimahi ada keluarga terkena Covid, warga lain bergantian mengirim makanan ke keluarga tsb sebagai bentuk gotong royong, dll.

Sementara resiliansi adalah kelenturan, yakni kemampuan melakukan perubahan amat sangat dibutuhkan dalam mengurangi resiko bencana. Utamanya saat ini, dimana dunia tengah menghadapi bencana berupa Pandemi Covid-19, maka peranan sekolah amat sangat sentral dalam kemampuan melakukan mitigasi.

Konsep sosialisasi mitigasi bencana berdasar kearifan lokal dipraktekkan dengan penyusunan sungai kehidupan. Kak Marni yang berasal dari Aceh bercerita sungai kehidupannya dengan penuh keharuan. Mulai dari konflik GAM – TNI, pengangkatan sebagai CPNS hingga lulus PPG, hingga meninggalnya putra tercintanya. Kemudian pak Sihana yang dari Jogja, ternyata ada pengalaman mengajar di Sabang. Beliau bercerita sungai kehidupannya mulai kejadian bencana Tsunami di Aceh, hingga gempa besar di Bantul, yang dia mengalaminya secara langsung. Dan masih banyak lagi sungai kehidupan diceritakan para peserta, baik dari Lombok, Jateng, DIY, Aceh, dll..

Dalam kesempatan tersebut panitya membagikan buku panduan sebagai pegangan para peserta mengimplementasikan hasil workshop di sekolah masing-masing. Bagi yang menghendaki peroleh  materi workshop dan buku panduan tersebut, silahkan UNDUH DI SINI.

8 tanggapan pada “RESILIENSI SEKOLAH BERBASIS KEARIFAN LOKAL UNTUK MITIGASI BENCANA

  1. Dyah Respati Suryo Sumunar Balas

    Wah.. hebat pak Yuddy langsung membuat summary atau ringkasan dari workshop ini. Sangat membantu peserta, Pak..

    • 4chsan PenulisBalas

      Terima kasih, bu Dyah. Ilmu dari Ibu dan Prof Irene amat sangat menginspirasi. Mudah-mudahan bisa saya aplikasikan di sekolah kami.

  2. Siti Irene Balas

    Terima kaih atas ulasannya kerja kualitas…semoga segera dipratikan di sekolah bangunlah sekolah yang resilien dan pribadi siswa yang resilien.

    • 4chsan PenulisBalas

      Terima kasih, Ibu. Ilmu dan tambahan wawasan dari Ibu amat sangat menginspirasi untuk kami terapkan di sekolah kami. Semoga Ibu beserta Keluarga UNY senantiasa peroleh keberkahan dari Nya. Aamiin….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *