PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK, ARAH BARU DALAM PENDIDIKAN

“Pengetahuan adalah konsekuensi dari pengalaman,” demikian pendapat psikolog terkenal asal Swiss; Jean Piaget. Belajar sambil melakukan adalah cara tercepat untuk mengasimilasi pencapaian peradaban umat manusia. Orang menghadapi banyak masalah setiap harinya, sehingga kemampuan dalam pemecahan masalah semestinya menjadi dasar dalam pembelajaran. Jadi, jika kita mempersiapkan siswa untuk sukses dalam hidup, maka kita musti mempersiapkan mereka melalui belajar mengatasi permasalahan yang mereka hadapi. Dan cara melatih mereka (menurut berbagai penelitian) terbukti sangat efektif-efisien dilakukan melalui pendekatan pembelajaran berbasis proyek. Dan dalam perkembangan selanjutnya, terbukti bahwa pembelajaran berbasis proyek menjadi sebuah pendekatan yang mampu menghubungkan siswa dengan dunia nyata.

 

Pengertian Pembelajaran Berbasis Proyek

Pembelajaran berbasis proyek atau project-based learning adalah metode pembelajaran yang berpusat pada siswa. Hal ini memungkinkan peserta didik untuk memperluas basis pengetahuan mereka, serta mengembangkan keterampilan melalui implementasi proyek dalam memecahkan masalah yang mungkin mereka hadapi di dunia nyata. Metode ini diterapkan sebagai dasar kurikulum terkait proyek-proyek diskrit di sekitar kita, dengan menghadapkan siswa pada masalah multi-dimensi untuk dipecahkan, atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit kepada mereka untuk dijawab. Proyek-proyek ini biasanya relatif luas dan kompleks untuk dikerjakan oleh satu siswa. Karenanya pembelajaran berbasis proyek selayaknya diterapkan dalam kelompok-kelompok siswa, sehingga dapat juga dijadikan sarana melatih keterampilan siswa dalam berkolaborasi. Melalui pembelajaran berkelompok, siswa dapat melakukan penelitian, menganalisis informasi dan menarik kesimpulan yang mereka buat sendiri. Akibatnya, mereka mempelajari konten lebih dalam dan memperoleh berbagai keterampilan yang dibutuhkan di dunia modern.

Metode pembelajaran berbasis proyek merupakan perangkat lunak yang mampu mengubah pembelajaran tradisional yang pasif dan penuh hafalan, menjadi pembelajaran yang mampu memotivasi siswa untuk lebih berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Ini lebih baik daripada hanya menjejalkan informasi untuk sekedar lulus ujian akhir.

 

Manfaat Pembelajaran Berbasis Proyek

Proyek adalah sarana untuk mentransfer pengetahuan dan keterampilan penting yang dibutuhkan untuk belajar. Dengan kata lain, guru berperan sebagai fasilitator untuk mengajar dan memantau siswa di kelas (utamanya kelas online). Dan siswa menjadi penjelajah digital aktif atau evaluator pembelajaran mereka sendiri, saat mereka membuat proyek.

Jadi, apa keunggulan perangkat lunak ini yang mampu menjadikannya sebagai arah baru dalam pendidikan?

 

1. Menghubungkan peserta didik dengan konteks nyata

Dalam pendidikan, penerapan pengetahuan dalam praktik adalah salah satu tugas terpenting setiap siswa. Jelasnya, membaca dokumen atau buku akan selalu lebih mudah daripada berlatih mengaplikasikannya. Misalnya, lebih mudah membaca buku atau artikel tentang hidup positif daripada benar-benar berlatih berpikir positif sepanjang waktu. Dalam pembelajaran berbasis proyek, siswa harus menghadapi situasi nyata di dunia, yang dimodelkan dalam bentuk proyek. Untuk menemukan solusi dari suatu masalah, mereka harus mengajukan pertanyaan yang tepat . Kemudian mencari informasi yang relevan, melakukan survei tentang keadaan yang sebenarnya dan menganalisis data yang diperoleh.

Misalnya, kita ajukan topik proyek “Perlindungan lingkungan” dengan pertanyaan “Bagaimana cara mengurangi penggunaan kantong plastik?” Artinya, siswa harus melakukan survei tentang cara penduduk setempat menggunakan kantong plastik, efek berbahayanya, dan cara mengurangi penggunaannya. Dengan demikian, siswa terhubung dengan kehidupan nyata, dan tidak hanya dengan teori. Akibatnya, siswa memperoleh pengetahuan dalam proses kerja dan memelihara sikap positif terhadap pendidikan. Mereka akan bekerja secara individu untuk mendapatkan data, selanjutnya dapat bekerja sama dalam lingkungan online untuk berbagi informasi, berdiskusi, dan menyelesaikan proyek. Lingkungan ini memberikan fleksibilitas tambahan dalam ruang dan waktu, yang mampu mengatasi keterbatasan sumber daya yang didapati  di kelas konvensional (tatap muka).

 

2. Mengembangkan keterampilan abad 21

Mempersiapkan siswa untuk menghadapi dunia bukanlah tugas yang mudah bagi setiap pendidik. Tidak ada siswa dalam sejarah pendidikan seperti siswa modern saat ini. Karena dunia modern berkembang pesat, sangat penting bagi anak-anak untuk mengembangkan serangkaian keterampilan yang dapat dibutuhkan di perguruan tinggi, universitas, dan pekerjaan. Keterampilan ini disebut keterampilan abad ke-21 , dan dapat diperoleh melalui perangkat lunak. Ini termasuk:

  • berpikir kritis;
  • kreativitas;
  • kerja sama;
  • komunikasi;
  • literasi informasi;
  • literasi media;
  • literasi teknologi;
  • fleksibilitas;
  • kepemimpinan;
  • prakarsa;
  • pertunjukan;
  • keramahan.

Saat menyelesaikan sebuah proyek, siswa dapat berpikir di luar kotak. Dan dalam waktu bersamaan, mereka bekerja dengan orang lain, mencapai kesepakatan, belajar bagaimana berkomunikasi secara efektif dalam mengemukakan ide-ide, serta mampu melakukan penyesuaian antara tipe kepribadian yang berbeda-beda. Selain itu, untuk memecahkan masalah, siswa perlu memahami fakta, menganalisis statistik dan meringkas data yang dikumpulkan. Agar berhasil, mereka harus menggunakan komputer dengan kompeten. Dengan kata lain, perangkat lunak membantu pelajar mengembangkan keterampilan untuk hidup dalam masyarakat teknologi tinggi yang padat pengetahuan. Akibatnya, mereka akan dapat dengan mudah memecahkan masalah e-kursus apa pun di masa depan. Selain itu, siswa menjadi lebih bijaksana, beradaptasi lebih efektif dengan dunia di sekitar mereka.

 

3. Mengungkapkan pendapat

Kemampuan mengekspresikan pendapat adalah keuntungan signifikan dari penerapan pembelajaran berbasis proyek. Dan tidak diragukan lagi, berdasar hierarki kebutuhan yang dikemukakan Abraham Maslow, kita semua akan mampu memenuhi kebutuhan untuk aktualisasi diri. Ini menjelaskan mengapa orang selalu ingin mengungkapkan pendapat mereka kepada orang lain. Jika peserta didik tidak dapat menggunakan penilaian mereka dalam memecahkan masalah dan menjawab pertanyaan, maka proyek menjadi sarana latihan rutin. Dalam pelaksanaan pembelajarannya, siswa dapat mengontrol banyak aspek proyek, mulai dari pertanyaan yang mereka buat, waktu yang mereka kelola, sumber daya yang akan mereka gunakan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan mereka, tugas dan peran yang akan mereka ambil sebagai anggota tim, produk yang akan mereka buat, dll.

 

4. Penilaian Kinerja Siswa

Seperti yang dinyatakan sebelumnya, siswa harus menggunakan berbagai keterampilan untuk membuat proyek. Dengan cara ini, fasilitator dapat menilai kemampuan peserta didik untuk mengamati, menyusun, menganalisis, dan mensintesis data. Dengan kata lain, fasilitator memiliki lebih banyak kesempatan untuk menilai peserta didik dibandingkan dengan esai atau ujian di kelas tradisional. Hasil proyek kelas akan menjadi lebih bermakna jika dilakukan untuk siswa itu sendiri, dan bukan hanya untuk guru atau peserta tes.

“Kami tidak belajar dari pengalaman kami sendiri. Kita belajar dengan memikirkan pengalaman” (John Dewey). Sepanjang pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek, Anda dapat merenungkan apa yang telah dipelajari para pelajar, bagaimana mereka belajar, dan mengapa mereka belajar. Fasilitator Plus dapat memberikan umpan balik yang informatif untuk setiap proyek guna membantu peserta didik menjadikannya lebih baik di masa mendatang.

 

Kesimpulan

Keuntungan utama yang disebutkan di atas adalah alasan yang baik untuk memperkenalkan pembelajaran berbasis masalah. Itulah mengapa diperlukan perangkat lunak sebagai metode pengajaran yang kuat dan banyak digunakan baik di kelas nyata maupun virtual. Perangkat lunak yang efektif di kelas, amat bergantung pada kemampuan guru untuk membuat konten berkualitas tinggi. 

 

Contoh perencanaan pembelajaran berbasis proyek bisa dilihat di link berikut ini:

GURU BERBAGI | PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING DALAM LAYANAN BIMBINGAN KLASIKAL (kemdikbud.go.id)

6 tanggapan pada “PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK, ARAH BARU DALAM PENDIDIKAN

  1. Siti Hafsoh Balas

    Mantaps, Bp Yuddy ini sdh menerapkan hadist Rasulullah SWA :
    “tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat”

  2. MUDJI SUPRIJATNO Balas

    Alhamdulillah, saya mendapat ilmu baru yang bagus sekali dari pak Yuddy, dan bisa diterapkan di sekolah.

    Namun mhn ijin utk bertanya, mengapa dlm tulisan tersebut, utk Guru BK tidak langsung disebutkan atau dicantumkan Guru BK atsu Konselor, tapi ditulis Pendidik.

    Karena dlm pemahaman sy, tulisan tsb mengarah kpd Guru BK utk melaksanakan Project Learning.

    Maaf, bilamana pemahaman kami sangat terbatas.

    Terimakasih banyak.

    • 4chsan PenulisBalas

      Terima kasih pak Muji, kehadiran Bapak menjadi support tersendiri bagi saya.

      Secara langsung saya tidak membahas BK pada kegiatan pembelajaran berbasis proyek, karena pembelajaran ini mengedepankan kolaborasi, baik kolaborasi siswa maupun team guru. Sebagai contoh, sekolah akan mengunggah tema “Karakter Pelajar Pancasila”. Konten tersebut secara langsung akan bersinggungan dengan mapel Agama, PPKn dan IPS sehingga diperlukan kehadiran guru mapel tersebut untuk terlibat di dalamnya. Sementara konten karakter, adalah konten utama garapan BK. Nah, di sinilah kehadiran guru BK akan sangat strategis dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek. Atas dasar alasan itu pembahasan pada artikel di atas sifatnya masih umum. Semoga bisa dimaklumi.

    • 4chsan PenulisBalas

      Terima kasih supportnya, pak Darmawan. Suatu kehormatan bagi saya atas kehadiran Bapak di blog saya. Salam sehat semangat bahagia selalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.